Tanya Brian

Bagaimana cara tetap fokus WFH saat memiliki banyak anak di rumah tanpa sering emosi?

13 September 2026 · Brian Arfi Faridhi

Jawaban singkat

Kerja dari rumah dengan banyak anak itu mustahil tenang seratus persen. Kunci utamanya bukan mencari keheningan mutlak, tapi mengatur ekspektasi keluarga lewat rutinitas yang jelas. Pisahkan ruang kerja secara fisik, sepakati jam tidak boleh diganggu, dan disiplin dengan jam keluarga agar rasa bersalah saat kerja bisa hilang.

Gw udah dua dekade bikin produk, dari Tokopedia sampai bikin tiga startup gw sendiri. Sebagian besar pengalaman gw, apalagi sekarang saat pegang empat tim product kejar target rilis di Saudi Arabia, dilakukan secara remote. Kalau lo pikir WFH dengan anak banyak itu gampang, lo salah besar. Dulu di awal, gw sering banget gampang emosi. Otak lagi panas mikirin rilis fitur baru, tiba-tiba di luar kamar ada anak yang nangis atau berantem.

Gimana caranya gw bertahan bertahun-tahun kerja remote tanpa jadi bapak yang gampang marah?

Pertama, batas fisik itu harga mati. Lo wajib punya area khusus di mana otak lo, dan yang lebih penting keluarga lo, tahu kalau lo lagi duduk di situ artinya lo sedang kerja. Kalau lo buka laptop di ruang keluarga atau meja makan, wajar banget kalau anak ngajak main. Mereka tidak salah, lo yang salah ngasih sinyal. Gw selalu pastikan ada ruangan dengan pintu tertutup buat kerja. Pintu tertutup artinya mode fokus.

Kedua, atur ekspektasi setiap pagi. Waktu gw pernah ngobrol santai soal produktivitas sama Rama Mamuaya, satu hal yang kerasa banget adalah pentingnya transparansi jadwal harian ke orang rumah. Gw selalu kasih tahu istri ritme harian gw. Mana jadwal meeting penting yang butuh hening total, mana jam gw bisa diganggu buat makan siang bareng. Anak-anak itu sebenarnya pintar mengamati. Mereka cepat paham aturan main asalkan kita konsisten menerapkannya tiap hari.

Ketiga, beresin kerjaan lebih cepat dengan impact maksimal. Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren: $4 juta+ per tahun dari macem-macem inisiatif. Dulu leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal; sekarang AI jadi alat paling tajam buat kebiasaan yang sama, dan bisa dilatih ke semua orang di tim. Ketika lo ngerti cara kerja cerdas dan memanfaatkan alat dengan benar, kerjaan bakal beres jauh lebih efisien. Hasilnya? Lo punya sisa energi yang masih utuh dan mood yang waras buat main sama anak setelah tutup laptop.

Keempat, buang rasa bersalah. Ini sumber emosi yang paling sering bikin kita meledak. Waktu lagi kerja, ya fokus kerja. Waktu lagi nemenin anak main, tutup rapat laptop dan jauhkan handphone dari jangkauan tangan lo. Kita sering gampang marah karena kita merasa gagal di dua peran secara bersamaan. Lagi meeting kepikiran anak yang main sendiri, giliran lagi nyuapin anak malah kepikiran kerjaan tim yang belum kelar. Pisahkan dua dunia ini secara tegas.

Kerja dari rumah itu pada akhirnya bermuara pada kedisiplinan diri kita sendiri. Keluarga lo akan perlahan menyesuaikan dengan ritme kerja lo kalau lo sendiri disiplin menjaga batasan yang lo buat. Kalau lo penasaran gimana cara gw pakai alat baru buat pangkas waktu kerja rutin, lo bisa langsung cek info tentang AI Circle yang lagi gw bangun bareng tim.