Tanya Brian

Apa kesalahan paling fatal saat menyusun PRD (Product Requirements Document)?

9 Agustus 2026 · Brian Arfi Faridhi

Jawaban singkat

Kesalahan paling fatal adalah menyusun PRD sebagai daftar fitur panjang tanpa menjelaskan outcome yang mau dicapai. Tim jadi sibuk bangun fitur, bukan menyelesaikan masalah user. PRD yang bagus dimulai dari masalah dan metrik keberhasilan, baru turun ke fitur. AI bisa bantu percepat draft, tapi kejelasan outcome tetap tanggung jawab PM, bukan tool.

Gw udah nulis dan review PRD dari jaman jadi product manager junior di Tokopedia sampai sekarang megang 4 tim produk di superapp MENA. Kesalahan yang paling sering gw temuin, di tim sendiri maupun tim orang lain, sama terus: PRD isinya cuma daftar fitur.

Formatnya rapi. Ada judul, ada latar belakang, ada mockup. Tapi kalau lo tanya, ini fitur buat nyelesain masalah apa dan gimana lo tahu berhasil, banyak yang kelabakan jawab. Fiturnya jelas, outcome-nya kosong.

Efeknya baru kelihatan belakangan. Tim udah capek-capek ngebangun daftar fitur yang panjang, tapi metrik utama gak gerak. Pas dibedah, banyak fitur itu nice-to-have yang gak nyambung ke masalah asli user. Gw ngalamin sendiri waktu mimpin tim di platform identity dan otentikasi keluarga Tokopedia: PRD awal isinya daftar requirement teknis yang panjang banget. Gw paksa tim balik nanya, kalau semua ini kelar, angka apa yang berubah? Dari situ requirement-nya kepangkas jauh, dan yang tersisa itu yang beneran ngedorong metrik yang kita kejar.

Sekarang cara gw nulis PRD selalu mulai dari tiga hal sebelum nyentuh fitur:

  1. Masalah spesifik apa yang user alami, bukan asumsi tim.
  2. Metrik yang mau berubah, dan posisinya sekarang di angka berapa.
  3. Kenapa ini harus dikerjain sekarang, bukan bulan depan.

Fitur baru masuk belakangan, sebagai jawaban atas tiga hal itu, bukan sebagai daftar keinginan stakeholder yang ditumpuk begitu aja.

AI sekarang bikin bagian penulisan PRD jauh lebih cepat. Gw pakai AI buat nge-draft dokumen, susun struktur, sampai cek konsistensi antar bagian. Tapi itu cuma mempercepat penulisan, bukan mikirin outcome-nya. AI gak bisa nebak metrik mana yang penting buat bisnis lo atau masalah user mana yang paling nyakitin. Itu tetap kerjaan PM. Kalau lo minta AI bikinin PRD dari brief yang isinya cuma daftar fitur, hasilnya PRD rapi yang tetap salah dari akarnya.

Jadi kalau lo baru mau nulis PRD, jangan buka dokumennya dengan judul fitur. Buka dengan satu kalimat: masalah ini bikin user rugi apa, dan angka apa yang mau gw geser.

Kalau lo mau belajar cara pakai AI buat mempercepat kerja produk tanpa kehilangan penilaian yang tadi gw sebut, cek AI Circle.