Tanya Brian
Bagaimana cara bikin proposal klien pakai AI tapi tetap kedengeran kayak kita?
Jawaban singkat
Jangan suruh AI nulis dari nol. Kasih contoh tulisan asli lo ke prompt sebagai patokan gaya bahasa. Biarkan AI menyusun kerangka dan merapikan struktur, tapi bagian paling penting, masalah spesifik klien dan opini pribadi, wajib lo tulis sendiri pakai tangan. Klien bayar keahlian lo, bukan robot.
Banyak freelancer dan tim sales kepergok klien. Mereka ngirim proposal yang wangi AI nya kecium dari jarak lima kilometer. Pakai kata hiperbola, struktur kaku, dan nol personaliti. Ujungnya klien ilfil dan proyek lepas.
Gw, Brian Arfi Faridhi atau biasa dipanggil Brobri, sering banget lihat kejadian begini. Sebagai product leader, gw rutin nerima pitch dari vendor. Kalau proposalnya hasil ketikan AI tanpa diedit, gw langsung coret. Kenapa? Karena kelihatan malas. Klien cari partner yang ngerti masalah mereka secara spesifik.
Cara pakai AI buat nulis proposal itu bukan lepas tangan. AI itu asisten, bukan penulis hantu lo.
Pertama, kasih AI konteks dan gaya bahasa lo.
Kalau lo cuma nulis "buatkan proposal untuk klien X", AI bakal pakai gaya bahasa baku yang super generik. Cara benernya: masukin contoh email, proposal lama, atau artikel yang pernah lo tulis sendiri. Suruh AI baca dan jadikan itu patokan.
Kedua, bagi tugas dengan jelas.
AI jago merangkum, bikin outline, dan ngerapihin tata bahasa. Gunakan AI buat bikin struktur proposal. Tapi, bagian diagnosis masalah klien dan tawaran solusi? Haram hukumnya diserahin ke AI. Bagian ini butuh empati dan jam terbang. Lo yang wawancara klien, lo yang tahu nyala api di mata mereka pas cerita masalahnya. Tulis bagian ini sendiri.
Ketiga, masukin pengalaman konkret.
AI nggak punya pengalaman hidup. Dia nggak tahu seberapa berdarah darahnya lo ngejalanin proyek. Masukin fakta dan angka dari kerjaan lo sendiri buat menguatkan argumen.
Contohnya soal penghematan. Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren: $4 juta+ per tahun dari macem-macem inisiatif. Ada perbaikan proses, optimasi biaya, dan keputusan produk yang lebih efisien. Dulu leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal; sekarang AI jadi alat paling tajam buat kebiasaan yang sama, dan bisa dilatih ke semua orang di tim. Bukti nyatanya, sekarang gw bisa bikin sistem distribusi konten 8 kanal yang gw jalanin sendirian. Lewat program Applied-AI Certification dan komunitas AI Circle, gw juga bisa melatih banyak orang melakukan hal serupa.
Pengalaman otentik kayak gitu yang bikin proposal lo hidup. Klien butuh bukti bahwa lo ngerti lapangan, bukan cuma jago ngetik prompt.
Jadi, pas AI udah selesai nulis draf, baca lagi. Hapus semua kata sifat yang berlebihan. Potong kalimat yang terlalu panjang. Ganti diksi robot dengan bahasa manusia biasa. Kalau lo baca draf itu dan ngerasa ini bukan gaya lo ngomong, berarti tugas lo belum selesai.
Proposal itu representasi diri lo. Jangan biarkan AI merampas suara orisinal lo.
Kalau lo mau tahu lebih banyak cara implementasi AI yang praktis buat ningkatin nilai diri dan kerjaan lo, lo bisa gabung dan belajar bareng di AI Circle.