Tanya Brian
Cara bikin AI ngerti konteks kerjaan kita tanpa ngetik ulang tiap kali?
Jawaban singkat
Lo butuh sistem prompt dan dokumen panduan tetap, biasa disebut custom instructions atau knowledge base. Daripada ngetik konteks kerjaan dari nol tiap mau ngobrol sama AI, lo simpan aturan, peran, dan data penting di satu tempat. AI tinggal baca dokumen itu tiap kali mulai percakapan baru.
Gw sering lihat orang malas pakai AI karena capek ngetik perintah panjang. Awalnya nyoba, terus nyerah karena AI ngasih jawaban yang gak nyambung sama konteks kerjaan mereka. Wajar, AI itu ibarat anak magang yang super pintar tapi baru masuk hari ini. Dia gak tahu siapa target pasar lo, apa gaya bahasa lo, atau gimana standar dokumen di perusahaan lo.
Solusinya bukan ngetik ulang semua itu tiap kali buka chat baru. Lo harus bangun sistem memori buat AI lo. Kalau lo pakai ChatGPT Plus, Claude, atau Gemini Advanced, ada fitur yang namanya Custom Instructions atau Projects. Di situlah lo tanam semua konteks kerjaan lo.
Kalau lo pernah baca tulisan gw soal product management, lo pasti tahu kalau gw selalu fokus ke efisiensi sistem. Pendekatan yang sama gw pakai buat AI. Gw kasih contoh dari pengalaman pribadi. Gw bangun dan jalanin sistem distribusi konten 8 kanal sendirian. Artikel blog, konten LinkedIn, dan materi lainnya harus konsisten dengan gaya bahasa gw. Tanpa konteks yang disetup di awal, AI bakal ngasih tulisan kaku kayak robot. Gw naruh aturan gaya bahasa, larangan kata tertentu, dan struktur dokumen di dalam prompt sistem. Hasilnya, AI langsung paham dan gw hemat berjam-jam kerja operasional tiap minggu.
Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren: $4 juta+ per tahun dari macem-macem inisiatif. Dulu leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal; sekarang AI jadi alat paling tajam buat kebiasaan yang sama, dan bisa dilatih ke semua orang di tim.
Gimana cara mulai bikin AI paham konteks lo? Siapkan tiga elemen ini di satu dokumen teks, lalu masukin ke pengaturan AI lo:
- Peran yang jelas. Kasih tahu AI dia sedang jadi siapa. Misalnya: "Peran lo adalah product manager senior di startup keuangan Indonesia."
- Konteks data dasar. Masukkan informasi perusahaan, target audiens, dan produk utama lo. Cukup poin-poin singkat tapi padat.
- Aturan kerja. Kasih batasan tegas. "Jangan pakai kata sifat berlebihan", atau "Selalu berikan jawaban dalam format tabel", atau "Gunakan bahasa Indonesia santai".
Setelah ini disetel, tiap kali lo minta AI nulis email, bikin strategi, atau evaluasi dokumen, hasilnya langsung relevan. Lo tinggal kasih perintah singkat, karena beban konteksnya udah diurus di balik layar.
Gaya kerja ini yang gw terapkan juga waktu ngebangun program Applied-AI Certification dan AI Circle. Lo harus lihat AI bukan sebagai mesin pencari, tapi sebagai asisten yang perlu di-briefing sekali di awal dengan sangat baik. Setelah briefing awal itu selesai, eksekusi kerjaan lo bakal jauh lebih cepat tiap harinya.
Buat lo yang pengen tahu lebih dalam gimana cara nyusun sistem prompt atau nerapin workflow AI yang beneran jalan buat kerjaan lo, bisa cek materi yang sering gw bahas di AI Circle.