Karir

Pegang 4 produk, tiap hari cuma boleh ada satu yang paling penting

8 Juli 2026 · Brian Arfi Faridhi

Gw pegang empat produk sekaligus, tiap hari. Dan pelajaran terbesarnya bukan soal ngatur waktu. Pelajaran terbesarnya soal berani milih satu, terus ikhlas nurunin sisanya.

Dulu gw pikir produktif itu ngerjain sebanyak mungkin dalam sehari. Setelah 20 tahun bangun produk digital, gw yakin kebalikannya. Produktif itu berani milih satu hal yang paling penting, dan bilang "nanti" ke semua yang lain.

Kok susah amat cuma milih satu? Nah, itu dia. Justru karena semuanya kelihatan penting.

Empat kompor nyala, tangan cuma dua

Sekarang gw Director of Product di sebuah superapp yang lagi tumbuh cepat di MENA. Gw pegang empat tim produk. Empat roadmap, empat backlog, dan stakeholder yang semuanya ngerasa paling urgent.

Ibaratnya gini. Bayangin empat kompor nyala barengan. Tiap panci minta diaduk sekarang, dan tangan lo cuma dua.

Kalau lo bolak-balik ngaduk semua panci, gak ada satu pun yang mateng bener. Semuanya anget, gak ada yang matang.

Kerjaan gw persis gitu tiap pagi. Dan godaan paling gede bukan males. Godaan paling gede itu nyicil semuanya dikit-dikit, biar kelihatan sibuk, biar kelihatan adil ke semua tim.

Sibuk dan maju itu dua hal beda

Nyicil semua itu rasanya aman. Semua tim kebagian perhatian, semua stakeholder dapet update, kalender penuh, badan capek. Di akhir hari lo ngerasa udah kerja keras.

Tapi coba cek lagi. Dari semua yang lo sentuh hari itu, mana yang beneran kelar?

Ini gw alamin sendiri. Minggu-minggu di mana gw "adil" ke empat produk justru minggu-minggu paling lambat. Semua jalan, gak ada yang nyampe.

Sibuk itu soal berapa banyak yang lo sentuh. Maju itu soal berapa banyak yang lo selesaiin. Dari luar dua-duanya kelihatan mirip, hasilnya beda jauh.

Satu pertanyaan tiap pagi

Yang gw latih sekarang justru kebalikan dari insting gw. Tiap pagi, sebelum buka chat kerja, sebelum meeting pertama, gw paksa diri jawab satu pertanyaan:

Kalau hari ini cuma satu yang kelar, yang mana?

Satu. Bukan tiga "top priority". Bukan lima "quick wins". Satu.

Yang kepilih naik ke atas. Dia dapet jam terbaik gw, dapet fokus penuh sebelum energi kesedot meeting dan notifikasi.

Pertanyaan ini kedengeran sepele. Padahal dia kerjanya kayak filter: maksa gw jujur soal mana yang beneran ngegerakin produk, dan mana yang cuma bikin gw kelihatan responsif.

Sisanya gak dibuang, tapi diantre dengan sadar

Bagian ini yang paling sering disalahpahami. Milih satu bukan berarti tiga lainnya gw cuekin.

Tiga sisanya masuk antrean dengan sadar. Ada yang gw delegasiin penuh ke lead timnya. Ada yang cukup gw pantau lewat update singkat. Sisanya gw tunda terang-terangan, dan gw bilang langsung ke timnya: "ini gw pegang besok, bukan hari ini."

Bedanya jauh. Nunda karena kelupaan itu bikin tim kecewa. Nunda karena keputusan sadar, dan dikomunikasiin, malah bikin tim tenang. Mereka tahu posisi mereka di antrean.

Prioritas itu bukan daftar urutan, prioritas itu keputusan tunggal soal apa yang harus kelar hari ini walaupun yang lain berhenti.

Ngomong "nanti" itu bagian dari kerjaan

Di awal karir, gw ngerasa bersalah tiap nolak permintaan. Dari Tokopedia, Hijra, Flip, sampai tiga startup gw sendiri, polanya sama terus: yang paling nyiksa bukan kerjaannya, tapi rasa gak enak pas bilang "belum sekarang".

Sekarang gw lihatnya beda. Ngomong "nanti" dengan jelas itu bagian dari kerjaan seorang leader, bukan tanda gagal.

Karena kalau lo gak pernah bilang "nanti", sebenarnya lo lagi bohong halus. Lo janjiin semua orang "sekarang", padahal jam lo sehari tetap 24. Ujung-ujungnya semua kecewa barengan, cuma waktu telatnya aja yang beda-beda.

Prinsip satu kalimat

Kalau semua di atas diperes jadi satu kalimat, ini dia:

Fokus itu bukan ngerjain banyak hal dengan rapi, fokus itu berani nolak yang bagus demi yang paling penting.

Dan lawannya juga satu kalimat: semua penting itu artinya gak ada yang penting.

Empat kompor tadi gak akan pernah bisa lo jaga sama gedenya. Yang bisa lo pilih cuma satu, panci mana yang harus mateng hari ini.

Yang gw kira kerja keras, ternyata cuma kelihatan sibuk. Yang gw kira egois karena milih satu, ternyata justru itu yang bikin kerjaan kelar.

Besok pagi, sebelum lo buka laptop, coba jawab jujur: kalau hari ini cuma satu yang kelar, yang mana?