AI
Tahun Lalu Gw Butuh Satu Tim Engineer. Sekarang Gw Jalanin 8 Kanal Sendirian
Tahun lalu, kalau lo nanya gw butuh apa buat bangun sistem kayak gini, jawaban gw gak pake mikir: satu tim engineer. Minimal tiga orang. Satu ngurus backend, satu ngurus integrasi ke tiap platform, satu jagain infra biar gak tumbang tengah malam.
Minggu ini sistemnya jalan penuh. Delapan kanal. Yang bangun satu orang: gw. Bareng AI.
Dan biar jelas dari awal: gw bukan engineer. Gw 20 tahun di dunia produk digital, lewat Tokopedia, Hijra, Flip, plus tiga startup sendiri. Gw bisa baca kode, tapi gw bukan orang yang biasa nulis sistem produksi sendirian.
Kenapa gw sampai bangun beginian
Konten itu urat nadi buat gw. AI Circle, komunitas applied AI yang gw bangun buat pekerja kantoran Indonesia, hidupnya dari distribusi. Kalau konten gw gak nyampe ke orang, komunitasnya gak tumbuh.
Masalahnya, waktu gw makin sempit. Kerjaan utama gw Director of Product di sebuah superapp yang lagi tumbuh cepat di MENA, pegang empat tim produk. Di rumah ada istri dan anak yang jelas lebih penting dari algoritma Instagram.
Dulu solusinya klasik: tiap konten di-handoff ke orang. Satu kanal, satu langkah manual, satu antrian nunggu.
Sekarang solusinya beda bentuk sama sekali.
Sistemnya ngapain aja
Alurnya gini. Gw live atau upload video di YouTube. Udah, itu doang tugas gw.
Sisanya jalan sendiri:
- Sistem nyadar ada video baru, tanpa gw pencet apa-apa.
- Video dipotong jadi klip pendek. Tiap kandidat klip dinilai dulu, cuma yang menarik yang lolos. Maksimal lima klip per video, bukan asal potong.
- Klip yang lolos dijadwalin nyicil sepanjang hari ke YouTube Shorts, Instagram Reels, Instagram Story, dan WhatsApp Story. Ada jeda antar post biar gak keliatan kayak robot nyampah.
- Dari judul dan transkrip videonya, sistem nulis pengumuman versi teks. Itu jalan ke WhatsApp Channel, Threads, dan LinkedIn. Khusus LinkedIn dijatah satu post per hari, digeser ke hari yang masih kosong.
- Tiap ada yang tayang, laporan masuk ke Telegram gw. Kalau ada yang rusak, sistem monitoring yang teriak duluan.
Satu video masuk, delapan kanal keisi. Full otomatis.
Mesin distribusi konten itu definisinya simpel: sistem yang mengubah satu konten jadi banyak format untuk banyak kanal, dan jalan tanpa disuruh.
Dulu kalimat kayak gitu cuma ada di deck startup yang lagi cari pendanaan. Sekarang itu deskripsi barang yang nyala di rumah gw.
Kenapa dulu ini kerjaan satu tim
Yang bikin sistem ginian mahal bukan ide besarnya. Ide besarnya sederhana. Yang mahal itu detailnya.
Tiap platform punya aturan sendiri. Ada yang cuma mau nerima video lewat link publik, gak mau file langsung. Ada yang formatnya harus kotak, ada yang harus vertikal. Ada yang durasi story-nya mentok di bawah 30 detik, jadi klip harus dipotong dan dikompres ulang otomatis.
Terus ada dunia yang gak keliatan dari luar: retry pas upload gagal, guard biar gak dobel post, batas posting harian biar akun gak dicurigai, monitoring biar gw tahu kalau ada bagian yang mati diam-diam.
Ini persis jenis kerjaan yang dulu gw serahin ke tim engineering. Gw nulis requirement, mereka yang begadang.
Dan jujur aja, sistem ini juga gak jadi dalam semalam. Ada insiden. Ada post yang hampir nyasar ke akun yang salah. Ada fitur yang keliatan beres, terus ketahuan bocor pas dipakai beneran. Bedanya, tiap ada masalah gw bisa minta AI bedah dan benerin saat itu juga, bukan bikin tiket terus nunggu antrian dev.
Yang berubah bukan gw
Bagian yang perlu gw akuin: gw gak tiba-tiba jadi jago ngoding.
Yang nulis mayoritas kodenya AI. Peran gw ada di level lain: mutusin apa yang layak diotomasi, di mana harus ada gerbang persetujuan manusia, gimana perilaku sistem pas gagal, dan batas mana yang gak boleh dilewatin.
Ibaratnya, gw gak main semua alat musiknya. Gw jadi konduktornya.
Pola yang sama sebenernya udah lama gw pakai di kerjaan utama. Angka yang berani gw pasang di halaman depan brianarfi.com, lebih dari 4 juta dolar penghematan per tahun, itu lahir jauh sebelum AI ngetren, dari macem-macem inisiatif yang gw dorong sebagai product leader: perbaikan proses, optimasi biaya, keputusan produk yang lebih hemat. Automation cuma salah satunya. Bedanya, dulu leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal. Sekarang, kayak yang lo liat di mesin 8 kanal ini, AI bikin leverage yang sama bisa dibangun satu orang.
Skill barunya bukan "bisa pakai ChatGPT"
Banyak orang ngerasa udah ikut gelombang AI karena udah langganan chatbot.
Itu level pertama, dan itu bagus. Tapi jarak antara "bisa nanya ke AI" dan "punya sistem AI yang kerja sendiri" itu jauh banget. Di jarak itulah nilai lo sebagai pekerja ditentukan beberapa tahun ke depan.
Prinsip yang gw pegang sekarang: skill AI yang paling berharga bukan kemampuan nanya ke chatbot, tapi kemampuan merangkai beberapa AI jadi satu sistem yang kerja tanpa lo tungguin.
Merangkai itu artinya:
- Mecah kerjaan jadi langkah-langkah yang jelas.
- Nentuin langkah mana yang boleh full otomatis, dan langkah mana yang wajib lewat persetujuan manusia.
- Masang pagar: batas biaya, batas frekuensi, guard anti dobel post.
- Bikin sistemnya lapor, dan berhenti nanya manusia pas dia gak yakin.
Perhatiin deh, gak ada satu pun dari daftar itu yang bunyinya "jago ngoding". Semuanya skill berpikir sistem. Dan berpikir sistem bisa dilatih siapa aja, termasuk lo yang tiap hari hidupnya di Excel dan PowerPoint.
Ini juga alasan gw bikin Applied-AI Certification. Level terbawahnya buat orang yang baru eksplorasi. Level teratasnya gw namain Orchestrator: orang yang bisa bikin banyak AI kerja dalam formasi. Nama itu gw pilih bukan biar keren, itu emang deskripsi profesi barunya.
Definisi "satu orang produktif" udah geser
Dulu, output maksimal satu orang dibatasi jam kerjanya. Mau seproduktif apa pun, sehari tetap 24 jam.
Sekarang, output satu orang dibatasi kualitas sistem yang dia rangkai. Sistemnya jalan terus walau orangnya tidur.
Gw ngerasain ini tiap pagi. Bangun, buka Telegram, baca laporan kerjaan yang beres semalam: klip udah tayang, pengumuman udah kekirim, semua kanal keisi. Padahal gw lagi tidur, atau lagi meeting, atau lagi nemenin anak. Alhamdulillah, rasanya kayak punya tim yang gak pernah pulang.
Satu hal yang perlu diinget: full otomatis bukan berarti tanpa kendali. Sistem gw tetap punya batas posting harian, tetap ada monitoring yang bunyi kalau ada yang aneh, dan konten sumbernya tetap gw. AI gak bisa gantiin gw ngomong di depan kamera. Dia cuma mastiin omongan gw nyampe ke mana-mana.
Setahun lalu gw ngira masalah gw kekurangan orang. Sekarang gw sadar, masalah gw waktu itu kekurangan sistem.
Kalau besok pagi lo bangun dan delapan kerjaan rutin lo udah beres sendiri, kerjaan mana yang bakal lo serahin duluan?