AI
Bikin Roadmap Produk Pakai AI Tanpa Kehilangan Konteks Bisnis
Banyak Product Manager bangga pamer roadmap hasil bikinan AI dalam sekejap.
Masalahnya, sebagian besar roadmap itu tidak berguna.
Kenapa? Karena AI tidak tahu kalau unit economics lo sedang bermasalah, atau kompetitor baru saja menurunkan harga. AI hanya tahu template standar industri yang membosankan.
Membuat roadmap produk pakai AI itu gampang. Tapi bikin yang masuk akal buat bisnis lo? Itu tantangan sebenarnya.
Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren: $4 juta+ per tahun dari macem-macem inisiatif. Dulu leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal. Sekarang AI jadi alat paling tajam buat kebiasaan yang sama, dan bisa dilatih ke semua orang di tim.
Dulu, waktu gw memimpin produk di Tokopedia, Hijra, dan Flip, setiap inisiatif cost-saving butuh proses panjang. Di Flip misalnya, kami mengurangi biaya transfer uang sebesar 32% dalam 6 bulan. Itu setara dengan USD 2.12 juta per tahun. Di Tokopedia, integrasi akun Tokopedia dan Gojek melibatkan koordinasi lintas tim dan lintas perusahaan. Kami juga memangkas biaya OTP sekitar USD 2 juta per tahun.
Semua itu terjadi sebelum ada ChatGPT atau LLM canggih. Itu murni hasil dari perbaikan proses, optimasi biaya, dan keputusan produk yang efisien.
Sekarang, gw bisa melakukan hal serupa dengan jauh lebih cepat. Gw membangun sistem distribusi konten 8 kanal sendirian. Gw juga menjalankan Applied-AI Certification dan AI Circle dengan sangat efisien. Prinsip bisnisnya tidak berubah. Yang berubah adalah alat yang kita pakai.
Kenapa AI Sering Kasih Roadmap Sampah
Masalah utama saat Product Manager menggunakan AI untuk membuat roadmap adalah kurangnya konteks bisnis yang nyata.
Kalau lo cuma memasukkan prompt sederhana seperti: "Buat roadmap produk fintech untuk kuartal depan," AI akan memberikan daftar fitur standar. Mereka akan menyarankan fitur pembayaran, integrasi dompet digital, atau sistem loyalitas.
Hasilnya adalah daftar keinginan, bukan rencana strategis.
AI tidak tahu bahwa fokus utama lo saat ini adalah memperbaiki corong konversi. Misalnya, menaikkan konversi dari pendaftaran hingga verifikasi dari 30% ke 77% dalam 3 bulan. AI juga tidak paham jika retensi MAU lo perlu didorong dari 6.2% ke 30%.
Tanpa angka dan batasan riil ini, AI akan terus memberikan rekomendasi yang tidak nyambung dengan prioritas bisnis lo. Ujung-ujungnya, roadmap tersebut hanya berakhir di folder sampah karena tidak bisa dieksekusi.
Sebagai PM, tugas lo adalah menerjemahkan strategi bisnis menjadi prioritas produk. AI tidak bisa melakukan itu sendirian. AI butuh kemudi. Jika lo tidak memberikan kemudi yang tepat, AI akan membawa roadmap lo ke arah yang salah.
Cara Memasukkan Konteks Bisnis ke AI
Agar roadmap produk pakai AI bisa dipakai, lo harus memberikan konteks bisnis yang sangat spesifik. Jangan biarkan AI berasumsi tentang kondisi perusahaan lo.
Ini beberapa langkah praktis yang bisa lo lakukan:
Langkah awal, siapkan data performa produk lo saat ini. Masukkan angka-angka konkret. Jika konversi install ke registrasi lo berada di angka 35% dan target lo adalah meningkatkan ke 59% dalam 3 bulan, tuliskan itu dengan jelas.
Langkah berikutnya, jelaskan batasan yang dihadapi tim lo. Apakah kapasitas engineering lo terbatas? Batasan ini sangat penting agar AI tidak memberikan solusi yang tidak mungkin dieksekusi oleh tim lo.
Langkah lanjutan, gunakan formula instruksi yang jelas: Peran, Konteks Bisnis, Target, dan Batasan.
Contoh instruksi yang bisa lo berikan kepada AI:
"Lo adalah Product Director dengan 20 tahun pengalaman dan pernah membangun 3 startup sendiri. Produk kita adalah superapp B2C yang sedang menyatukan marketplace ke dalam satu platform. Target utama kuartal ini adalah meningkatkan konversi pendaftaran ke verifikasi dari 30% ke 77% dalam 3 bulan. Batasan kita adalah tim engineer sedang fokus pada migrasi sistem, sehingga kita tidak bisa membuat fitur baru yang rumit dari awal. Berikan rekomendasi inisiatif produk yang fokus pada perbaikan alur pengguna saat ini."
Dengan instruksi spesifik seperti ini, AI tidak akan menyarankan lo membuat fitur baru yang aneh-aneh. AI akan fokus mencari solusi optimasi alur yang sudah ada, misalnya menyederhanakan formulir atau memperbaiki pesan error yang membingungkan pengguna.
Menguji Hasil Roadmap dari AI
Setelah AI memberikan draf roadmap produk, jangan langsung lo presentasikan ke stakeholders. Lo harus mengujinya terlebih dahulu.
Gunakan AI sebagai rekan diskusi untuk menantang draf tersebut. Lo bisa meminta AI untuk mencari kelemahan dari roadmap yang baru saja dibuat.
Tanyakan hal seperti:
"Apa risiko terbesar dari rencana ini?"
"Di mana potensi hambatan yang bisa membuat target ini meleset?"
Proses ini membantu lo melihat sudut pandang yang terlewat. Roadmap produk yang baik adalah roadmap yang fleksibel tapi tetap fokus pada metrik bisnis yang ingin dicapai. AI membantu lo memikirkan alternatif solusi dengan cepat, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan lo sebagai Product Manager. Lo yang paling paham dinamika di lapangan.
Kemampuan menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi kerja produk ini adalah keterampilan wajib saat ini. Bukan untuk menggantikan peran lo, tapi untuk melipatgandakan dampak yang bisa lo berikan kepada perusahaan.
Kalau lo ingin belajar secara mendalam bagaimana menerapkan workflow AI yang taktis dan praktis untuk pekerjaan produk lo, lo bisa bergabung di AI Circle. Di sana kita belajar langsung lewat studi kasus nyata tanpa teori yang bertele-tele. Cek programnya di AI Circle.
Bagi perusahaan yang ingin melatih tim produknya agar mampu membangun solusi efisiensi berbasis AI secara mandiri, gw juga menyediakan program pelatihan khusus. Informasi lengkapnya bisa diakses di halaman corporate.