AI

Yang Disiapin Sebelum Ikut Workshop AI Biar Gak Buang Waktu

23 September 2026 · Brian Arfi Faridhi

Peserta workshop AI yang paling cepat berkembang bukan yang paling jago komputer.

Yang paling cepat berkembang itu yang datang bawa satu kerjaan spesifik yang bikin dia pusing.

Gw udah pegang banyak sesi AI, dari kelas AI Circle sampai training di kantor-kantor. Dan polanya selalu sama. Di jam pertama, satu ruangan keliatan mirip semua: sama-sama antusias, sama-sama nyatet. Tapi di jam ketiga, pesertanya kepecah dua. Ada yang pulang bawa alat yang beneran jalan di kerjaannya. Ada yang pulang bawa folder screenshot yang gak pernah dibuka lagi.

Bedanya bukan otak. Bedanya apa yang mereka siapin sebelum masuk.

Kenapa datang kosong itu mahal

Workshop AI itu formatnya padat. Empat jam, kadang cuma dua. Di dalamnya ada demo, ada teori secukupnya, ada praktik.

Kalau lo datang tanpa bahan, praktiknya diisi pakai contoh dari gw. Lo bikin prompt buat kasus fiktif, hasilnya lumayan, lo ngangguk, terus pulang. Besok lo balik ke kerjaan asli lo dan bingung nyambunginnya.

Ini masalah yang gw kenal dari sisi lain. Di Tokopedia dan Flip, gw sering ada di ruangan yang isinya orang pinter semua tapi keluar tanpa keputusan, karena gak ada yang bawa konteks konkret. Diskusinya jadi ngawang di level "kita harusnya lebih efisien". Yang gerak itu selalu rapat yang ada satu orang bawa angka dan bilang "ini bocornya di sini".

Workshop sama persis. Sesi yang ngubah cara lo kerja itu sesi yang lo isi pakai kerjaan lo sendiri.

Tiga hal yang layak lo siapin

Gak perlu ribet. Tiga ini cukup, dan siapinnya paling lama satu jam.

Satu, tiga kerjaan berulang yang lo benci.

Bukan proyek besar. Justru yang kecil dan sering. Nulis recap meeting tiap Senin. Nyalin data dari email ke spreadsheet. Bikin balasan yang isinya mirip-mirip terus. Tulis tiga aja, lengkap sama perkiraan berapa lama tiap minggunya.

Ini bahan bakar utama lo di sesi praktik. Dan ini juga cara paling cepat buat tau AI bantu di mana, karena kerjaan berulang itu tempat pertama di mana hasilnya kelihatan.

Dua, satu contoh output yang menurut lo bagus.

Kalau lo mau AI bantu nulis laporan, bawa satu laporan lo yang paling oke. Kalau mau bantu bikin materi presentasi, bawa deck yang lo bangga. Satu file, itu cukup.

Bagian ini yang paling sering dilewatin, padahal paling nentuin. AI itu payah kalau lo suruh "bikin yang bagus", karena dia gak tau standar bagus di kepala lo. Begitu lo kasih contoh, kualitasnya naik jauh tanpa lo perlu belajar teknik apa pun.

Tiga, akses yang udah dicek jalan.

Login AI yang mau dipakai udah kepegang. Laptop yang dibawa itu laptop kerjaan lo, bukan pinjaman. Kalau kantor lo mblokir tool tertentu, tanyain ke IT sebelum hari H, jangan di tengah sesi.

Ini kedengerannya sepele sampai lo ngitung ruginya. Dua puluh menit pertama yang hilang gara-gara orang gak bisa login itu dua puluh menit yang gak balik lagi.

Yang justru gak perlu lo siapin

Ini bagian yang sering bikin orang mundur duluan.

Lo gak perlu belajar prompt engineering dulu sebelum datang. Itu materinya. Datang sudah setengah tau bikin lo condong ke kebiasaan lama lo yang mungkin gak efektif.

Lo gak perlu ngerti cara kerja model AI dari dalam. Gw juga bukan engineer. Yang gw ngerti itu di mana kerjaan boros dan gimana nyuruh alatnya nutup boros itu.

Lo juga gak perlu nyiapin ekspektasi bahwa pulang dari workshop semuanya langsung otomatis. Satu kerjaan yang beneran kepotong waktunya itu hasil yang bagus untuk satu sesi. Sepuluh alat setengah jadi itu bukan.

Kebiasaan yang bikin sesi kerasa sia-sia

Nyatet semuanya, nyoba nol.

Gw ngerti asalnya dari mana. Nyatet itu kerasa produktif dan gak ada risikonya. Nyoba itu kerasa canggung, terutama kalau hasilnya jelek di depan orang.

Tapi catatan itu yang paling sering jadi sampah. Karena yang lo catat itu langkah yang keliatan di layar gw, bukan penilaian di kepala gw soal kapan harus percaya hasilnya dan kapan harus curiga. Bagian penilaian itu cuma nempel kalau lo yang ngetik, lo yang dapet hasil jelek, terus lo yang benerin.

Jadi kalau lo cuma bisa milih satu, pilih nyoba. Catatan bisa lo tulis nanti dari hasil percobaan lo sendiri, dan itu jauh lebih berguna.

Kenapa gw cerewet soal ini

Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren: $4 juta lebih per tahun dari macem-macem inisiatif, mulai dari perbaikan proses, optimasi biaya, sampai keputusan produk yang lebih efisien.

Dulu leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal. Gw bisa nemuin bocornya dan ngitung nilainya, tapi eksekusinya harus ngantri di backlog bareng puluhan prioritas lain.

Sekarang AI jadi alat paling tajam buat kebiasaan yang sama, dan bisa dilatih ke semua orang di tim. Buktinya ada di kerjaan gw sendiri. Sistem distribusi konten 8 kanal yang gw bangun dan jalanin sendirian, tanpa tim konten. Sistem Applied-AI Certification yang jalan dari assessment sampai badge. Komunitas AI Circle yang gw urus sambil tetap mimpin empat tim produk.

Gw bukan engineer. Yang gw punya cuma kebiasaan nyari kerjaan boros, dan sekarang alatnya ada di tangan semua orang.

Itu sebabnya persiapan lo penting. Workshop cuma bisa ngajarin lo cara pegang alatnya. Kerjaan boros yang mau lo potong, cuma lo yang tau.

Nyiapinnya sekarang aja

Buka notes, tulis tiga kerjaan yang paling lo males kerjain minggu ini. Cari satu file hasil kerjaan lo yang paling bagus. Cek login lo jalan.

Lima belas menit. Itu beda antara pulang bawa alat atau pulang bawa catatan.

Kalau lo mau belajar dengan orang yang sama-sama nyoba dan saling nunjukin hasil, sesi rutin dan materinya ada di AI Circle. Kalau yang mau digerakin itu tim lo dan lo pengen orang-orangnya punya kebiasaan yang sama, formatnya beda dan bisa disesuain ke proses kerja kalian, detailnya di halaman corporate.

Bawa kerjaan lo. Itu syarat satu-satunya.