AI
Cara praktis pakai AI untuk mencari celah dokumen bisnis
Niatnya hemat waktu nulis dokumen produk pakai AI.
Jatuhnya malah rugi.
Awalnya gw gak sadar. Gw pikir AI bisa gantiin kerjaan mikir dan nulis draf dari nol.
Ternyata gw lagi ngorbanin kualitas demi kecepatan palsu.
Kok bisa?
Ibaratnya gini. Lo nyuruh orang asing yang gak ngerti konteks perusahaan lo buat bikin strategi.
Di atas kertas, kalimatnya rapi. Kosakatanya kedengeran pinter.
Tapi pas dibaca ulang... kosong.
Gak ada rohnya. Gak nyelesaiin masalah asli pengguna.
Nah, kekuatan utama AI itu bukan buat nulis dokumen dari halaman kosong.
Kekuatan aslinya justru baru keluar waktu lo pakai dia sebagai kritikus.
AI jago banget buat mencari celah dokumen bisnis yang udah lo tulis pakai otak lo sendiri.
Sebagai product manager, kerjaan lo bukan cuma ngerapiin daftar fitur.
Kerjaan lo itu mastiin gak ada skenario pengguna yang kelewat.
Dan otak manusia selalu punya titik buta.
Apalagi kalau lo udah natap layar dan mikirin satu masalah berhari-hari.
Semua logika bakal kerasa masuk akal di kepala lo.
Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama
Sebelum gw bahas teknisnya, gw mau ngelurusin satu hal soal efisiensi.
Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren.
Kalau lo lihat halaman profil gw, ada angka penghematan lebih dari 4 juta dolar per tahun.
Angka itu bukan hasil sulap AI. Itu hasil kerja keras bertahun-tahun sebelum ada ChatGPT.
Mulai dari Tokopedia sampai Hijra dan Flip.
Dari mana aja asalnya? Dari macam-macam inisiatif.
Mulai dari perbaikan proses internal, optimasi biaya operasional, motong trafik yang redundan, sampai keputusan produk yang jauh lebih presisi.
Otomasi tiket pelanggan itu cuma salah satunya.
Gimana rinciannya?
Di Flip, gw dan tim bisa nekan biaya transaksi yang nilainya signifikan banget dalam setahun lewat optimasi infrastruktur.
Di Tokopedia dulu, gw mimpin proyek integrasi ratusan orang yang berhasil motong biaya OTP tahunan sampai jutaan dolar.
Semua itu kecapai karena budaya data yang kuat dan berani ngebongkar proses yang udah jalan.
Itu murni kerjaan kotor nelusurin dari mana uang perusahaan bocor.
Dulu, buat dapet hasil sebesar itu, lo butuh posisi strategis.
Lo butuh dukungan puluhan engineer. Lo butuh sistem pelacakan yang mahal.
Gak semua orang punya kemewahan buat ngeksekusi ide efisiensi yang dia temuin.
Soalnya ngeksekusi ide itu mahal.
Tapi sekarang situasinya berubah total.
AI jadi alat paling tajam buat nerusin kebiasaan yang sama.
Dan yang paling penting, sekarang cara kerja kayak gitu bisa diajarin dan dipakai semua orang di tim.
Tanpa harus antri minta waktu ke tim engineer.
Cara praktis mencari celah dokumen bisnis
Gini alur kerja nyata yang sering gw obrolin bareng Faridhi.
Jangan pernah minta AI nulis draf pertama.
Itu jebakan paling umum.
Lo yang harus duduk, mikir, dan nulis kebutuhan produk itu.
Pakai bahasa lo sendiri. Kasih konteks masalah yang nyata.
Setelah draf dokumen kebutuhan lo jadi, baru masukin ke model AI.
Tapi jangan kasih prompt malas kayak "tolong perbaiki tata bahasa tulisan ini".
Itu buang-buang potensi AI.
Prompt yang bener itu naruh AI sebagai lawan debat lo yang paling kritis.
Kasih dia peran spesifik.
Misalnya: "Lo adalah tim red team dan QA paling teliti. Tugas lo sekarang adalah mencari celah dokumen bisnis ini. Temukan logika yang bolong. Cari kasus ekstrem yang belum gw pikirkan. Serang semua asumsi lemah yang ada di tulisan gw."
Hasilnya bakal bikin lo diem sebentar.
AI bakal ngebongkar dokumen lo tanpa ampun.
Dia bisa nemuin kasus kayak: "Apa yang terjadi kalau pengguna menutup aplikasi persis saat pembayaran sedang diproses oleh bank mitra?"
Atau: "Dokumen lo berasumsi semua nomor telepon berawalan +62, bagaimana dengan ekspatriat yang memakai nomor luar negeri?"
AI bakal ngasih lo daftar panjang kemungkinan celah di lapangan.
Tugas lo sebagai manusia tinggal milih mana celah yang fatal dan wajib ditutup sebelum masuk tahap pengerjaan.
Bias pembuat dan pentingnya pihak ketiga
Mencari celah dokumen bisnis pakai AI ini efektif banget karena satu alasan sederhana.
AI gak punya bias pembuat.
Sebagai manusia, Brian Arfi atau siapa pun yang nulis dokumen pasti bangga sama karyanya sendiri.
Kita cenderung ngelindungin ide yang udah kita bangun susah payah.
Kita sering susah ngeliat kelemahan di karya sendiri.
Mesin gak punya emosi atau empati ke tulisan lo.
Dia cuma nyari inkonsistensi pola data.
Dan itu yang lo butuhin sebelum dokumen diserahin ke ratusan orang buat dieksekusi.
Bias pembuat ini sering bikin proyek molor panjang.
Udah berapa kali lo liat tim engineer berhenti di tengah pengerjaan karena nemu kondisi yang belum dipikirin penulis dokumen?
Tiap kali kerjaan berhenti karena dokumen bisnis kurang lengkap, perusahaan kehilangan uang. Waktu orang teknis itu mahal banget.
Mending ditampar AI di tahap draf, daripada produk lo hancur pas dipakai pengguna nyata.
Benerin logika di dokumen itu gratis.
Benerin kode yang salah di production itu mahal banget.
Naruh AI di tempat yang tepat
Prinsip gw soal alat gak berubah dari dulu.
Taruh alat terkuat di titik yang kesalahannya paling mahal.
Kesalahan terbesar pembuat produk bukan salah ketik, tapi salah ngerancang logika sistem.
Kalau lo kebiasa ngritisi dokumen sendiri sebelum dibaca orang lain, kualitas lo bakal naik.
Orang bakal ngeliat lo sebagai orang yang tajam dan mikirin semua kemungkinan.
Jadi, pakai teknologi ini dengan tajam.
Berhenti buang kuota AI cuma buat ngindahin kalimat.
Mulai pakai mesin itu buat nguji ketahanan logika berpikir lo.
Lo pilih mana? Kelihatan pinter pas presentasiin draf awal?
Atau produk lo beneran kokoh tanpa cela pas akhirnya dirilis?
Buat lo yang mau belajar kerangka mikir kayak gini lebih dalam, lo bisa kumpul bareng orang-orang sefrekuensi di AI Circle. Kita bedah cara pakai AI yang masuk akal buat keseharian.
Tapi kalau lo pengambil keputusan dan ngerasa seluruh tim di perusahaan lo butuh dilatih, kita bisa diskusi lewat program corporate training. Bantu tim lo jadi pemikir kritis, bukan cuma alat pengetik otomatis.