AI

Cara Pakai AI buat Riset Kompetitor dan Mangkas Kerjaan Manual

31 Juli 2026 · Brian Arfi Faridhi

Banyak orang mikir AI itu cuma buat mainan. Bikin gambar lucu, atau nulis caption media sosial yang template-nya ketahuan banget.

Padahal di tangan orang yang paham cara pakainya, alat ini bisa mangkas kerjaan yang selama ini dikerjain manual berhari-hari.

Batch 1 AI Circle diikuti 23 orang lintas peran. Ada PM, marketer, support lead, sampai ops. Yang gw pengen buktiin di situ satu hal: AI bukan cuma mainan tim tech.

Tulisan ini isinya cara kerjanya, bukan janji hasil.

Kebiasaan Lama Nyari Celah Efisiensi

Nyari celah efisiensi itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren.

Selama mimpin produk di Tokopedia, Hijra, dan Flip, kerjaan gw selalu balik ke pertanyaan yang sama: bagian mana dari proses ini yang sebenarnya gak perlu ada. Dari perbaikan alur, optimasi biaya, sampai keputusan produk yang lebih hemat.

Bedanya dulu sama sekarang cuma di alatnya.

Dulu, buat bikin dampak sebesar itu gw butuh posisi yang cukup tinggi, tim engineer, dan sistem yang pembangunannya makan waktu berbulan-bulan. Proyek integrasi akun Tokopedia dan Gojek itu contohnya, koordinasinya lintas tim dan lintas perusahaan.

Sekarang gak lagi. Sistem distribusi konten 8 kanal yang jalan buat brand gw itu gw bangun dan gw jalanin sendirian, tanpa tim agensi. Yang berubah bukan orangnya, tapi seberapa jauh satu orang bisa nyampe.

Memakai AI buat Riset Kompetitor Tanpa Ribet

Ambil satu contoh yang paling sering bikin males: riset kompetitor.

Cara lamanya lo buka belasan tab, copy paste data pesaing satu per satu ke spreadsheet, baru mulai mikir. Bagian mikirnya cuma kebagian sisa waktu, karena separuh hari udah kepakai buat ngumpulin.

Cara yang gw ajarin bentuknya bukan satu prompt sakti, tapi tiga giliran.

Giliran pertama, AI cuma disuruh baca dan ngerangkum dokumen publik yang lo kasih. Laporan tahunan, halaman harga, changelog produk, apa pun yang emang terbuka. Belum boleh nyimpulin apa-apa.

Giliran kedua, baru lo minta dia bandingin: siapa nawarin apa, di harga berapa, buat siapa. Di sini bentuknya udah tabel, bukan paragraf.

Giliran ketiga, baru lo minta dia nunjukin celah. Bagian mana yang gak ada yang ngisi, dan kenapa itu masuk akal.

Kerjaan yang sama, urutannya beda, hasilnya beda jauh. Yang bikin hasilnya tajam bukan panjang promptnya, tapi lo yang tau mau nanya apa duluan.

Kenapa Workshop 1 Hari Bisa Ngubah Cara Kerja

Banyak yang heran, kok bisa workshop satu hari ngasih dampak.

Jawabannya: kita gak belajar teori.

Kebanyakan kelas AI di luar sana ngajarin daftar prompt atau cara pakai tools terbaru. Masalahnya tools itu berubah tiap minggu. Yang lo pelajari hari ini bisa basi bulan depan.

Di AI Circle, fokusnya mecahin masalah kerjaan yang nyata. Kita belajar cara ngerumusin masalahnya dulu, metain alur kerja yang boros di sebelah mana, baru milih alat yang pas buat mangkas bagian itu.

Di kelas, gw ngajarin cara metain satu proses dari ujung ke ujung. Prosesnya dipecah jadi langkah kecil, dipisah mana bagian manusia dan mana bagian AI, baru sistemnya dibangun.

Pernah ngelola 4 tim produk sekaligus, gw tau susahnya koordinasi antar tim. Inisiatif kecil yang cuma butuh ngerapihin data sering ngantri berbulan-bulan di backlog engineering karena kalah prioritas sama yang lain.

Begitu orang non teknis bisa ngerjain sendiri, antriannya hilang.

Ini bukan soal mangkas orang, tapi ngelepasin mereka dari tugas monoton biar waktunya kepakai buat mikir.

Pelajari Caranya Langsung

AI Circle Batch 2 jalan hari Minggu, 9 Agustus 2026. Formatnya praktek, bukan nonton demo: lo bawa kerjaan lo sendiri, terus kita bongkar bareng sampai jalan.

Daftarnya di halaman AI Circle.

Kalau lo punya tim yang mau dilatih langsung dengan kurikulum yang disesuaikan sama masalah internal kantor lo, cek halaman Corporate Training.