AI

Cara Pakai ChatGPT untuk Latihan Presentasi Biar Gak Dibantai Atasan

10 Agustus 2026 · Brian Arfi Faridhi

Yang bikin lo grogi sebelum presentasi biasanya bukan slide-nya.

Tapi satu pertanyaan yang lo tahu bakal muncul, dan lo belum punya jawabannya.

Gw ngerasain itu bertahun-tahun. Dari ruang rapat Tokopedia, Hijra, Flip, sampai sekarang mimpin empat tim produk di superapp MENA. Deck udah rapi, angka udah lengkap, latihan ngomong udah tiga kali di depan cermin. Tapi begitu ada satu direktur nanya "ini asumsinya dari mana?", semuanya buyar.

Masalahnya jelas: lo latihan menyampaikan, bukan latihan diserang.

Kenapa latihan presentasi biasa gak nolong

Latihan yang paling umum itu baca ulang slide sampai lancar. Itu ngelatih mulut, bukan materi.

Padahal yang bikin presentasi ambruk hampir selalu bagian tanya jawab. Bagian yang gak bisa lo hafalin. Bagian di mana atasan lo nyolok satu lubang yang lo sendiri diem-diem tahu ada, tapi lo harap gak ada yang lihat.

Dulu cara ngatasinnya cuma satu: cari orang yang cukup senior dan cukup tega buat nge-review materi lo. Sulit. Orang kayak gitu sibuk, dan seringnya mereka baru komentar pas hari H, di depan semua orang.

Sekarang lo bisa manggil versi sintetisnya kapan aja. Ini salah satu pemakaian chatgpt untuk latihan presentasi yang menurut gw paling underrated: bukan buat nulisin slide lo, tapi buat nyerang slide lo.

Workflow empat langkah

1. Kasih konteks, bukan cuma materi

Kesalahan paling sering: orang nge-paste isi slide terus nanya "gimana menurut lo?". Jawabannya pasti sopan dan gak berguna.

AI butuh tahu ruangannya. Siapa yang duduk di situ, apa yang mereka pedulikan, keputusan apa yang lo minta.

Contoh prompt pembuka:

Gw mau presentasi ke Head of Operations dan Finance Director. Tujuannya minta approval budget buat 1 tools baru. Head of Ops peduli sama beban kerja tim, Finance Director peduli sama payback period. Gw akan kasih outline materinya. Jangan komentar dulu, tunggu sampai gw bilang selesai.

Baru setelah itu lo tempel materinya.

2. Suruh dia jadi atasan galak, spesifik galaknya

"Jadi atasan galak" doang terlalu abstrak. Hasilnya cuma pertanyaan generik.

Yang bikin tajam itu peran plus motif:

Sekarang lo jadi Finance Director yang skeptis. Lo udah dua kali kecewa sama proyek yang janjinya penghematan tapi realisasinya nol. Kasih gw 10 pertanyaan paling gak enak yang bakal lo lempar ke gw di ruangan. Urutkan dari yang paling bikin gw kelihatan gak siap. Jangan kasih jawabannya.

Bagian "jangan kasih jawabannya" itu penting. Kalau lo biarin dia jawab sendiri, lo cuma jadi penonton. Lo mau berkeringat sekarang, bukan pas hari H.

3. Latihan bolak-balik, bukan sekali jalan

Ini bagian yang paling sering dilewat. Jawab satu per satu, ketik jawaban lo apa adanya, lalu:

Nilai jawaban gw barusan dari sudut pandang Finance Director tadi. Mana bagian yang masih ngambang? Terus lempar pertanyaan lanjutan yang lebih menekan.

Tiga sampai empat putaran, lo bakal nemu satu titik di mana lo gak punya jawaban. Itu bukan kegagalan latihan. Itu justru hasil yang lo cari.

4. Bongkar asumsi diam-diam

Terakhir, minta dia berhenti nanya dan mulai membedah:

Berhenti jadi atasan. Sekarang jadi auditor. Daftarkan semua asumsi yang gw pakai tapi gak gw sebut eksplisit di materi ini. Tandai mana yang paling rapuh kalau ditanya sumbernya.

Gw hampir selalu nemu dua atau tiga asumsi yang gw kira udah jelas, padahal cuma jelas di kepala gw sendiri.

Yang gak boleh lo lakuin

AI itu gak tahu politik kantor lo, gak tahu sejarah proyek lo, dan gak tahu angka internal perusahaan lo kecuali lo kasih.

Jadi dua aturan mati. Pertama, jangan tempel data sensitif perusahaan ke tools yang gak diizinin kantor lo. Cek kebijakannya dulu. Kalau ragu, samarin angkanya jadi rasio atau pakai angka dummy yang proporsinya mirip.

Kedua, jangan pernah minta AI ngarang angka penguat buat materi lo. Kalau lo gak punya datanya, jawaban jujurnya adalah "gw belum punya data itu, gw ambil sebagai action item". Kalimat itu jauh lebih aman daripada angka karangan yang ketahuan di menit ke tujuh.

Kenapa ini penting buat karir lo

Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren. Total lebih dari $4 juta per tahun, dari macem-macem inisiatif: perbaikan proses, optimasi biaya, keputusan produk yang lebih efisien. Automation cuma salah satunya.

Tapi gak satu pun dari angka itu jalan karena gw punya ide bagus. Semuanya jalan karena gw berhasil meyakinkan orang di ruangan yang isinya skeptis. Ide yang gak lolos ruang rapat itu nilainya nol.

Dulu leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal. Sekarang AI jadi alat paling tajam buat kebiasaan yang sama, dan bisa dilatih ke semua orang di tim.

Gw ngerasain sendiri di sisi sebaliknya. Gw bukan engineer, tapi sistem distribusi konten 8 kanal buat brand gw sekarang gw bangun dan gw jalanin sendirian, bareng AI. Prinsipnya sama persis kayak dulu. Alatnya aja yang beda.

Latihan presentasi pakai AI itu versi kecil dari hal yang sama. Lo mindahin momen "gw gak siap" dari ruang rapat ke meja lo sendiri, semalam sebelumnya, gratis.

Kalau lo mau belajar cara mikir dan cara pakai AI kayak gini buat kerjaan lo sehari-hari, gw bahas rutin bareng anggota AI Circle.

Kalau yang mau lo naikin itu satu tim atau satu perusahaan, bukan diri lo sendiri, workshop internalnya ada di halaman corporate.