AI

Cara Pakai AI di Kantor: Mulai dari Kerjaan Lo, Bukan dari Tools

13 Juli 2026 · Brian Arfi Faridhi

Semua orang nanya hal yang sama.
"Brobri, tools AI apa yang paling bagus buat kerjaan gw?"

Gw selalu jawab balik dengan satu pertanyaan.
"Kerjaan lo yang berulang tiap hari apa?"

Ninety nine persen orang diem.
Mereka mikir keras, cobain ingetin, dan akhirnya sadar mereka gak punya jawabannya.

Itu masalah utamanya.
Semua orang mulai dari tools.
Mereka lihat demo keren di Twitter, langsung mau beli langganan, terus bingung kenapa di tangan mereka tools itu cuma ngasilin omong kosong.

Kok bisa?

Karena urutan yang bener itu kebalikannya.
Lo harus petain dulu kerjaan lo sendiri, baru cari AI yang motong langkah itu.

Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw

Buat ngeh aja, ini bukan teori gw baru kemarin.
Bikin perusahaan hemat itu kebiasaan lama gw, jauh sebelum AI ngetren: $4 juta+ per tahun dari macem-macem inisiatif.

Sumbernya berbagai hal. Perbaikan proses, optimasi biaya, keputusan produk yang lebih efisien. Automation cuma salah satunya, bukan sumber tunggal.

Dulu, nyiapin leverage kayak gitu butuh posisi, tim engineer, dan sistem mahal. Gw harus bikin dokumen PRD, ngejual ide ke stakeholder, antri di backlog, terus nunggu berbulan-bulan biar tim development mau ngerjain.

Sekarang prinsipnya gak berubah.
Tapi alatnya berubah total.

Sekarang AI jadi alat paling tajam buat kebiasaan yang sama. Dan yang paling penting, kebiasaan ini bisa dilatih ke semua orang di tim lo. Tanpa antri backlog. Tanpa nunggu engineer.

Gw bukan engineer.
Tapi beberapa bulan terakhir, bareng AI, gw bangun sendiri sistem distribusi konten 8 kanal buat brand personal gw. Gw juga jalanin AI Circle dan Applied-AI Certification.

Semua itu gw mulai bukan dari nanya "AI apa yang bagus".
Gw mulai dari nanya "kerjaan gw mana yang bisa dipotong".

Petain kerjaan lo, jangan kejar toolsnya

Kalau lo mau mulai pakai AI di kantor, lupakan dulu toolsnya.

Buka notes lo.
Tulis apa yang lo lakuin dari jam 9 pagi sampai 5 sore.

Nanti lo bakal nemuin pola yang sama.
Banyak banget hal yang repetitif.

Lo baca 30 halaman dokumen meeting cuma buat nyari poin keputusannya. Lo nulis caption sosial media dari nol tiap hari. Lo screen 50 CV buat nyari kandidat yang cocok.

Kerjaan gini yang makannya waktu.
Dulu lo gak punya pilihan, lo kerjain manual.

Sekarang lo bisa ubah 30 halaman jadi 5 poin plus action items.
Lo bisa bikin caption plus 10 hook variations buat A/B testing dalam hitungan menit. Lo bisa kasi AI 50 CV, dia ngerangkum tiap kandidat sekaligus nandain yang cocok sama JD lo. Lo tinggal baca shortlist-nya.

Kerjaan yang dulu makan 2 sampai 3 jam sehari, sekarang turun jadi menit.
Dan lo bangun automationnya sendiri.

Itu baru cara pakai AI di kantor yang bener.
Lo mulai dari masalah lo sendiri, bukan dari kemampuan toolsnya.

Dari ngelatih tim ke AI Circle

Gw ngelakuin pendekatan ini ke tim gw sendiri di kantor. Tim product yang gw lead, mereka dipaksa buat bikin dokumentasi kerjaan mereka sendiri dulu. Sebel dikit emang, tapi begitu mereka lihat langkah mana yang bisa dipotong, langsung paham.

Pengalaman ngelatih tim inilah yang gw bawa ke AI Circle.

Lo gak akan diajarin ngoding.
Lo gak akan diajarin jadi prompt engineer jenius.

Lo cuma diajarin satu hal.
Bongkar kerjaan harian lo, temukan yang repetitif, serahkan ke AI.

Kalau lo individu yang pengen kerja lo beres dan pengen punya sistem sendiri, lo bisa gabung di AI Circle di link /ai-circle/.

Tapi kalau lo pemimpin di perusahaan, dan lo pengen tim lo kerja lebih cepet dan berdaya, gw buka training AI perusahaan. Lo bisa cek detailnya langsung di /corporate/.

Berhenti nanya tools apa yang bagus.
Mulai tanya kerjaan lo mana yang mau dipotong hari ini.