AI

Budaya kerja remote Timur Tengah, ini kenyataannya setelah kerja bareng orang Saudi

17 Oktober 2026 · Brian Arfi Faridhi

Di startup Indonesia, keputusan sering lahir dari thread Slack yang panjang. Di Saudi, keputusan sering lahir dari satu orang senior yang dengerin lo lima menit.

Gw baru ngerti bedanya setelah kerja bareng stakeholder Saudi. Sekarang gw mimpin empat tim produk di superapp MENA yang lagi tumbuh cepat, dengan fokus pasar Arab Saudi dan GCC. Sebelumnya hampir dua puluh tahun gw ngerilis produk di Tokopedia, Hijra, dan Flip, plus tiga startup gw sendiri.

Jadi gw kenal dua dunia ini dari dalam. Dan banyak ekspektasi orang soal karir luar negeri itu meleset.

Gaya komunikasi: tulisan pendek, hubungan panjang

Dari dulu gw kebiasa ala startup Indonesia. Tulis dokumen rapi, kirim, tunggu komentar. Kerja asinkron gw anggap tanda profesional.

Di Saudi, cara itu sering mentok. Dokumen sepuluh halaman bisa gak kebuka sama sekali. Yang jalan justru telepon singkat, voice note, atau pesan WhatsApp yang langsung ke inti.

Hubungan juga jalan duluan sebelum kerjaan. Pembuka obrolan yang gw kira basa-basi ternyata fondasi. Kalau lo langsung masuk ke agenda, orangnya sopan, tapi percayanya belum ada. Tanpa percaya, usulan sebagus apa pun nyangkut.

Satu lagi soal bahasa. Penolakan jarang datang dalam kata "gak". Lebih sering berupa jawaban yang menggantung atau topik yang digeser. Butuh beberapa kali salah baca sebelum gw peka.

Makanya gw ubah cara kerja. Dokumen tetap gw tulis, tapi cuma sebagai arsip. Pesan intinya gw kirim pendek, terus gw tutup dengan telepon.

Kecepatan keputusan: nunggu lama, jalan kilat

Di startup Indonesia, keputusan biasanya hasil kesepakatan banyak orang. PM, engineer, desainer, bisnis, semua ikut bicara. Prosesnya gak selalu cepat, tapi eksekusinya biasanya mulus karena semua udah setuju.

Di sini polanya kebalik. Keputusan ada di tangan segelintir orang senior. Buat sampai ke mereka, kadang lo harus nunggu. Jadwal mereka padat dan gak bisa lo atur.

Tapi begitu keputusan keluar, geraknya cepat. Gak ada putaran alignment tambahan. Yang tadinya "nanti kita bahas", jadi "kerjain sekarang".

Contohnya waktu gw dapet arahan strategis buat geser fokus dari UMKM kecil ke 16 tenant besar. Di startup Indonesia, keputusan kayak gini biasanya butuh berminggu-minggu ngumpulin dukungan. Di sini kuncinya satu: bawa usulan yang jelas ke orang yang tepat. Begitu disetujui, roadmap dan materi komersialnya langsung ikut berubah.

Di Indonesia pun gw pernah ngerasain kecepatan serupa. Pas proyek integrasi akun Tokopedia dan Gojek, target tiga bulan kelar dalam satu bulan, dengan banyak tim terlibat sekaligus. Bedanya, di Indonesia kecepatan itu datang dari koordinasi yang rapat. Di Saudi, datang dari wewenang yang jelas.

Dua-duanya bisa cepat. Cuma jalannya beda, dan lo harus tahu mau lewat jalan yang mana.

Budaya kerja remote Timur Tengah: ekspektasi yang sering meleset

Banyak yang bayangin kerja remote buat perusahaan luar negeri itu bebas. Bangun siang, kerja dari mana aja, kirim hasil, kelar.

Kenyataannya beda. Ini yang gw lihat paling sering meleset:

  • Remote bukan berarti jarang dihubungi. Stakeholder senior sering ngabarin lewat WhatsApp, dan mereka berharap dibalas cepat, termasuk di luar jam yang lo anggap jam kerja.
  • Pekan kerja geser. Hari libur dan jam sibuknya gak sama dengan Jakarta. Jadwal rapat harus ngikutin waktu salat, dan ritme kerja berubah pas Ramadan.
  • Kehadiran dihitung. Nyalain kamera, muncul di rapat penting, dan sigap pas dipanggil itu bagian dari reputasi. Kontribusi diam-diam di dokumen jarang kelihatan.
  • Eskalasi lebih langsung. Masalah naik ke level atas lebih cepat. Lo harus siap ditanya langsung soal hal yang biasanya selesai di level PM.

Semua itu aturan main yang beda, bukan kekurangan. Orang kapok biasanya gara-gara datang bawa aturan lama.

Gw juga gak mau nyeragamin. Ini pengalaman gw dengan lingkungan kerja tertentu. Perusahaan lain bisa beda, dan tiap orang punya gaya sendiri. Tapi pola di atas cukup konsisten buat dijadiin bekal.

Kalau lo mau coba karir luar negeri

Ada tiga hal yang gw pegang, dan semuanya gw pelajari dengan cara mahal.

Pertama, belajar baca konteks sebelum nunjukin kemampuan. Orang yang pinter tapi gak peka biasanya kalah sama orang yang cukup pinter dan paham ritme.

Kedua, tulis pendek dan bicara jelas. Ringkasan satu paragraf yang bisa dibaca sambil jalan lebih kepake daripada dokumen lengkap yang gak kebuka.

Ketiga, bawa bukti, bukan janji. Hasil konkret bikin lo dipercaya jauh lebih cepat, di negara mana pun.

Kerja lintas negara bakal makin umum, dan AI bikin jarak itu makin gampang ditutup. Buat nyusun ringkasan, nerjemahin nuansa, atau nyiapin rapat di zona waktu yang beda, alatnya udah ada. Tinggal lo belajar pakainya dengan bener.

Kalau lo lagi nyiapin diri buat kerja lintas negara, masuk ke AI Circle. Di situ gw bagi workflow dan prompt yang gw pakai tiap hari, dan kita ngulik bareng.

Kalau lo mimpin tim atau perusahaan yang mulai kerja bareng mitra luar negeri, lihat halaman corporate. Di situ ada cara gw bantu tim lo pakai AI buat kerjaan sehari-hari.