Suami Qawwam
Nakhoda yang nurut ombak itu bukan nakhoda.
Nakhoda yang nurut ombak itu bukan nakhoda. Dia cuma penumpang yang kebetulan ikut pegang kemudi. Istri minta ke kanan, dia ikut putar ke kanan. Anak minta ke kiri, dia ikut juga, padahal di depan ada karang.
Dia kira nurutin semua maunya istri dan anak itu bukti sayang. Padahal itu cuma takut dibenci, dibungkus kata sayang. Allah titipkan kemudi itu, bukan cuma gelarnya.
"Laki-laki (suami) itu pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka..." (QS. An-Nisa: 34)
Kelebihan yang Allah kasih ke kita bukan buat gaya gayaan. Itu amanah buat mastiin arah keluarga gak nabrak karang. Pas mereka minta pergi ke arah yang berbahaya. Tugas kita nolak, walau mereka ngambek.
Anak males sholat subuh, dibiarin molor tiap hari. Istri belanja kebablasan, dibiarin biar rumah adem. Itu bukan sayang, itu lepas tangan.
Pegang kemudinya, baru itu namanya sayang.
Jangan lepas kemudinya.